Kamis, 21 Februari 2013

Cerpen Impian yang terwujud


Karya : Hutama Widya Putra/ 16/ XH
 
Impian Yang Terwujud

Aku hidup sebatang kara, aku terlahir dari rahim ibuku dan darah daging ayahku, tapi aku tidak tahu siapa orangtuaku. Aku tumbuh dibesarkan oleh nenekku. Nenekku adalah sosok wanita yang sangat penyayang dan sangat mengerti akan perasaanku. Aku sangat mencintai beliau walaupun beliau bukan orangtuaku sendiri. Dengan sisa umurnya beliau membesarkan aku dengan penuh kasih sayangnya seperti menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Sungguh besar pengorbanan beliau. Aku sangat bersyukur memiliki nenek seperti itu.
Hingga tiba suatu hari beliau meninggalkanku untuk selamanya. Aku menangis……   Aku sedih…., sekarang aku sudah tidak punya siapa – siapa lagi. Aku hidup sebatang kara. Aku tidak tau harus bagaimana. Hidupku terombang ambing. Tiap hari aku berjalan dan terus berjalan tak tahu arah. Tiap detik setiap nafas ini berhembus aku selalu berdo’a “Ya Allah Yang Maha memberi petunjuk berikan hambamu ini jalan terbaik, hambamu hanya ingin bisa bertemu dengan kedua orangtua hambamu ini”. Do’a itu setiap hari selalu menyertaiku. Aku tidak tahu seperti apa ayah ibuku, aku tidak tahu bagaimana wajah ayah ibuku, aku tidak tahu…..aku tidak mengerti apa itu rasa kasih sayang orangtua. Sekarang aku hanya hidup dijalan. Aku makan dari hasil jerih payahku mengamen. Aku tidur tak kenal tempat.
Tiap hari aku berjalan melangkahkan kaki ini terus dan terus… hingga tiba-tiba langkah ini terhenti, ku lihat seorang anak yang sedang bermain dengan ayah ibunya, betapa bahagianya dia memiliki orangtua yang utuh dan menyayanginya. Aku terdiam dan merenung “kapan aku bisa seperti dia..?? memiliki orangtua yang lengkap, seandainya orangtuaku masih ada, mungkin hidupku tak kan seperti ini, tapi aku hanya bisa pasrah dan tabah, karena aku tahu Allah itu Maha Adil dan Maha Bjaksana”. Kemudian aku melanjutkan perjalananku lagi. Aku tak tau harus kemana, yang kulihat hanyalah sebuah jalan, jalan setapak, yang berharab mengantarkanku bertemu dengan kedua orangtuaku.  Aku melangkah dan terus melangkah, tiba tiba terdengar suara azan berkumandang, aku memutuskan berhenti sejenak untuk melaksanakan kwajibanku yaitu sholat, aku berdo’a “ Ya Allah kapan hambamu ini bisa bertemu dengan kedua orangtua hamba, hamba ingin seperti mereka yang bahagia dengan kasih sayang orangtua, Ya Allah berikan hamba ini petunjuk dan pertemukanlah hamba dengan kedua orangtua hamba Ya Allah..., Amin..”
Setelah itu aku bergegas untuk melanjutkan perjalananku lagi. Segala penjuru arah sudah aku jelajahi. Aku seperti orang gila saja, dengan harapanku ini. Biarlah orang berkata apa, ya beginilah aku, apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihanku. Memang aku tak seperti bintang dilangit, tak seperti indah pelangi karna diriku bukanlah mereka, aku apa adanya.
5 tahun sudah berlalu sekarang aku sudah tumbuh dewasa. Aku teringat pesan dari  nenekku dulu bahwa orangtuaku masih hidup dan tinggal di suatu tempat. Aku melihat kebawah,“dulu nenekku pernah ngasih aku kalung yang berisi surat, tapi sampai sekarang aku belum pernah membacanya, bodohnya diriku..” kemudian aku bergegas melepas kalungku dan membuka gantungannya, aku ambil selembar surat itu kemudian aku baca “ maafkan ayah ibumu nak, kami berdua terpaksa meninggalkanmu, sebenarnya kami tidak mau berbuat seperti ini kepadamu, tapi waktu yang harus memisahkan kita, ayah ibumu harus bekerja merantau ke Jakarta untuk mencari uang, bila kamu sudah tumbuh dewasa nanti nak, carilah kami, kami tinggal di Jln.Kemang No 08 Jakarta. Sekali lagi  maafkan ayah ibumu ya nak…” Kemudian aku mengucap syukur “Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah memberi hambamu ini petunjuk”
Setelah mengetahui kabar surat itu, aku tiap hari bekerja dan terus bekerja untuk mendapatkan sepersen uang, hampir pekerjaan apapun aku jalani. Hari demi hari uang hasil pekerjaanku terkumpul lumayan banyak. Aku senang sekali akhirnya impianku untuk bertemu kedua orangtuaku akan segera terwujud. Aku bergegas pergi ke stasiun, aku beli tiket jurusan Jakarta. Aku masuk kekreta dan memilih tempat duduk. Di perjalanan aku sempat membayangkan bagaimanakah wajah ayah ibuku sampai sampai aku tertidur lelap. 11 jam telah berlalu, kreta pun sudah sampai di tempat tujuan yaitu di Jakarta. Aku bergegas keluar dan menghirup udara segar disana. Setelah itu aku mencari angkot untuk mengantarkanku kerumah ayah ibuku. Terlihat ada sebuah Angkot yang sedang parkir di pinggir jalan, aku bergegas menghampiri supir angkot tersebut lalu bertanya “Maaf Pak mengganggu sebentar, bapak tahu alamat Jl. Kemang No 08 Jakarta?” kemudian supir angkot itu menjawab “ Ohh…. iya saya tahu, daerah itu tidak jauh dari sini, mari saya antarkan“ kemudian aku bergegas naik ke dalam angkot dan menikmati perjalanan. Didalam hati tidak sabar ingin sekali buru-buru bertemu dengan ayah ibu. Akhirnya tidak lama kemudian aku sampai di depan rumah ayah ibuku. Betapa bahagianya diriku, impian yang selama ini untuk bertemu dengan orangtuaku sudah hampir terwujud. Tapi aku lihat rumah ayah ibuku kelihatan sepi, seperti tak berpenghuni. Kemudian aku tanya ke tetangga sebelah, beliau mengatakan bahwa orang yang menempati rumah itu telah meninggal sudah lama akibat kecelakaan maut. Aku seakan tak percaya atas semua ini, kemudian beliau mengantarkanku ke  pemakaman tempat ayah ibuku di makamkan. Ternyata benar itu ayah ibuku, aku menagis tak henti henti. Aku masih seakan tak percaya. Tapi ini semua sudah takdir dari Allah. Aku harus tabah dan ikhlas atas kepergian mereka. aku sebagai anak kwajibanku adalah mendo’akan mereka agar semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Memang impianku selama ini sudah terwujud tapi dengan keadaan yang seperti ini.
Orangtua bagiku adalah segalanya. Orang sukses belum tentu dikatakan sukses apabila belum bisa membahagiakan orangtuanya. Oleh karena itu, jangan pernah sekalipun menyianyiakan mereka apalagi menyakiti hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar