|
Aku
hidup sebatang kara, aku terlahir dari rahim ibuku dan darah daging ayahku,
tapi aku tidak tahu siapa orangtuaku. Aku tumbuh dibesarkan oleh nenekku.
Nenekku adalah sosok wanita yang sangat penyayang dan sangat mengerti akan
perasaanku. Aku sangat mencintai beliau walaupun beliau bukan orangtuaku
sendiri. Dengan sisa umurnya beliau membesarkan aku dengan penuh kasih
sayangnya seperti menganggap aku sebagai anaknya sendiri. Sungguh besar pengorbanan
beliau. Aku sangat bersyukur memiliki nenek seperti itu.
Hingga
tiba suatu hari beliau meninggalkanku untuk selamanya. Aku menangis…… Aku sedih…., sekarang aku sudah tidak punya
siapa – siapa lagi. Aku hidup sebatang kara. Aku tidak tau harus bagaimana.
Hidupku terombang ambing. Tiap hari aku berjalan dan terus berjalan tak tahu
arah. Tiap detik setiap nafas ini berhembus aku selalu berdo’a “Ya Allah Yang
Maha memberi petunjuk berikan hambamu ini jalan terbaik, hambamu hanya ingin
bisa bertemu dengan kedua orangtua hambamu ini”. Do’a itu setiap hari selalu
menyertaiku. Aku tidak tahu seperti apa ayah ibuku, aku tidak tahu bagaimana
wajah ayah ibuku, aku tidak tahu…..aku tidak mengerti apa itu rasa kasih sayang
orangtua. Sekarang aku hanya hidup dijalan. Aku makan dari hasil jerih payahku
mengamen. Aku tidur tak kenal tempat.
Tiap
hari aku berjalan melangkahkan kaki ini terus dan terus… hingga tiba-tiba
langkah ini terhenti, ku lihat seorang anak yang sedang bermain dengan ayah
ibunya, betapa bahagianya dia memiliki orangtua yang utuh dan menyayanginya.
Aku terdiam dan merenung “kapan aku bisa seperti dia..?? memiliki orangtua yang
lengkap, seandainya orangtuaku masih ada, mungkin hidupku tak kan seperti ini,
tapi aku hanya bisa pasrah dan tabah, karena aku tahu Allah itu Maha Adil dan
Maha Bjaksana”. Kemudian aku melanjutkan perjalananku lagi. Aku tak tau harus
kemana, yang kulihat hanyalah sebuah jalan, jalan setapak, yang berharab
mengantarkanku bertemu dengan kedua orangtuaku.
Aku melangkah dan terus melangkah, tiba tiba terdengar suara azan
berkumandang, aku memutuskan berhenti sejenak untuk melaksanakan kwajibanku
yaitu sholat, aku berdo’a “ Ya Allah kapan hambamu ini bisa bertemu dengan
kedua orangtua hamba, hamba ingin seperti mereka yang bahagia dengan kasih
sayang orangtua, Ya Allah berikan hamba ini petunjuk dan pertemukanlah hamba
dengan kedua orangtua hamba Ya Allah..., Amin..”
Setelah
itu aku bergegas untuk melanjutkan perjalananku lagi. Segala penjuru arah sudah
aku jelajahi. Aku seperti orang gila saja, dengan harapanku ini. Biarlah orang
berkata apa, ya beginilah aku, apa adanya dengan segala kekurangan dan
kelebihanku. Memang aku tak seperti bintang dilangit, tak seperti indah pelangi
karna diriku bukanlah mereka, aku apa adanya.
5
tahun sudah berlalu sekarang aku sudah tumbuh dewasa. Aku teringat pesan
dari nenekku dulu bahwa orangtuaku masih
hidup dan tinggal di suatu tempat. Aku melihat kebawah,“dulu nenekku pernah
ngasih aku kalung yang berisi surat, tapi sampai sekarang aku belum pernah
membacanya, bodohnya diriku..” kemudian aku bergegas melepas kalungku dan
membuka gantungannya, aku ambil selembar surat itu kemudian aku baca “ maafkan
ayah ibumu nak, kami berdua terpaksa meninggalkanmu, sebenarnya kami tidak mau
berbuat seperti ini kepadamu, tapi waktu yang harus memisahkan kita, ayah ibumu
harus bekerja merantau ke Jakarta untuk mencari uang, bila kamu sudah tumbuh
dewasa nanti nak, carilah kami, kami tinggal di Jln.Kemang No 08 Jakarta.
Sekali lagi maafkan ayah ibumu ya nak…” Kemudian
aku mengucap syukur “Alhamdulillah Ya Allah Engkau telah memberi hambamu ini
petunjuk”
Setelah
mengetahui kabar surat itu, aku tiap hari bekerja dan terus bekerja untuk
mendapatkan sepersen uang, hampir pekerjaan apapun aku jalani. Hari demi hari
uang hasil pekerjaanku terkumpul lumayan banyak. Aku senang sekali akhirnya
impianku untuk bertemu kedua orangtuaku akan segera terwujud. Aku bergegas
pergi ke stasiun, aku beli tiket jurusan Jakarta. Aku masuk kekreta dan memilih
tempat duduk. Di perjalanan aku sempat membayangkan bagaimanakah wajah ayah
ibuku sampai sampai aku tertidur lelap. 11 jam telah berlalu, kreta pun sudah
sampai di tempat tujuan yaitu di Jakarta. Aku bergegas keluar dan menghirup
udara segar disana. Setelah itu aku mencari angkot untuk mengantarkanku kerumah
ayah ibuku. Terlihat ada sebuah Angkot yang sedang parkir di pinggir jalan, aku
bergegas menghampiri supir angkot tersebut lalu bertanya “Maaf Pak mengganggu
sebentar, bapak tahu alamat Jl. Kemang No 08 Jakarta?” kemudian supir angkot
itu menjawab “ Ohh…. iya saya tahu, daerah itu tidak jauh dari sini, mari saya
antarkan“ kemudian aku bergegas naik ke dalam angkot dan menikmati perjalanan.
Didalam hati tidak sabar ingin sekali buru-buru bertemu dengan ayah ibu.
Akhirnya tidak lama kemudian aku sampai di depan rumah ayah ibuku. Betapa
bahagianya diriku, impian yang selama ini untuk bertemu dengan orangtuaku sudah
hampir terwujud. Tapi aku lihat rumah ayah ibuku kelihatan sepi, seperti tak
berpenghuni. Kemudian aku tanya ke tetangga sebelah, beliau mengatakan bahwa
orang yang menempati rumah itu telah meninggal sudah lama akibat kecelakaan
maut. Aku seakan tak percaya atas semua ini, kemudian beliau mengantarkanku
ke pemakaman tempat ayah ibuku di
makamkan. Ternyata benar itu ayah ibuku, aku menagis tak henti henti. Aku masih
seakan tak percaya. Tapi ini semua sudah takdir dari Allah. Aku harus tabah dan
ikhlas atas kepergian mereka. aku sebagai anak kwajibanku adalah mendo’akan
mereka agar semua amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT. Memang impianku
selama ini sudah terwujud tapi dengan keadaan yang seperti ini.
Orangtua
bagiku adalah segalanya. Orang sukses belum tentu dikatakan sukses apabila
belum bisa membahagiakan orangtuanya. Oleh karena itu, jangan pernah sekalipun
menyianyiakan mereka apalagi menyakiti hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar